Senin, 16 Juli 2012

Inikah papa mamaku Tuhan?


Kriiing.  Alarm Raisa berbunyi. Dengan mata yang masih enggan membuka Raisa mematikan alarm di jam wekernya  yang baru menunjuk angka  3 pagi. Raisa memang sengaja bangun dipagi buta agar ia bisa belajar. Ya maklum lah ada ujian disekolahnya, jadi dia harus belajar ekstra. Raisa memang selalu juara kelas dan ia tidak mau gelarnya jatuh kepada orang lain.

Dia lalu menuju kamar mandi di kamarnya mencuci muka kemudian lenuju meja belajarnya dan membuka bukunya. Di tengah-tengah ia belajar ia mendengar gerbang rumahnya tebuka. Ia mengintip dari jendela kamarnya siapa yang datang. Ternyata papanya baru pulang jam segitu. Beberapa bulan  terakhir ini papa Raisa memang sering sekali pulang malam. Raisa melanjutkan belajar hingga subuh. Kemudian mandi, bersiap ke sekolah.

Jam menunjukkan pukul 06.00. Raisa pergi ke meja makan. Di sana sudah ada mamanya yang sedang sarapan. Tapi papanya tak terlihat di meja makan itu. Raisa pun bertanya pada mamanya
“Papa mana ma?”
“Udah berangkat”
“Hah? Perasaan tadi subuh baru pulang, kok udah balik lagi? Emang sesibuk itu ya kerjaan papa?”
“Iya kali (nada cuek)
Raisa mengernyit, kenapa mamanya begitu tidak peduli dengan papanya. Raisa hanya mampu berkata dalam batinnya “Kok mama cuek? Ah mungkin aja lagi berantem”. Raisa mencoba menjauhkan pikiran negatif dari otaknya sambil terus menghabiskan sarapannya.  Jam lalu menunjukkan pukul 06.15 WIB. Raisa harus segera berangkat ke sekolah.
 “Ma, Raisa berangkat dulu ya. Assalamualikum”
“Walaikumsalam, ati-ati”
“Heem”
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Mario pacar Raisa menjemput Raisa ke kelasnya berniat mengajak makan di restoran favorit mereka. Namun hari ini, Raisa menolaknya. Dia ingin langsung saja pulang ke rumah, beristirahat dan belajar buat ujian. Demi ujian ia merelakan segalanya bahkan pacarnya. Mario pun mencoba mengerti.  Raisa pun pulang sendiri dengan motornya. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah ujian, ujian dan apa yang sebenarnya terjadi antara papa dan mamanya. Tapi, dia tidak terlalu memikirkan hal yang terakhir itu, walaupun, hal itu sangat menganggu pikirannya. Raisa berusaha keras untuk fokus ke ujian, ujian dan ujian.
Di sepanjang jalan yang ada di benaknya juga hanya rumah, rumah dan rumah. Semakin cepat sampai maka waktu belajar akan semakin panjang. Sesampai di rumah, dia memarkir motor di garasi kemudian masuk ke dalam melewati semacam gazebo di belakang rumahnya. Raisa menemui mamanya sedang asyik mengobrol bersama Tante Rini teman mamanya.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
“Eh ada tante Rini. Siang tante”
“Eh Raisa, iya siang. Kok tumben udah pulang?”
“Ada ujian tante, jadi cuman bentar sekolahnya”
“Oh gitu”
“Yaudah ya ma, tante, Raisa masuk dulu”
“Oh iya iya”
Raisa masuk ke ruang makan dan langsung melahap makan siangnya. Setelah itu dia langsung pergi ke kamarnya dan…tidur!

Kurang lebih dua jam Raisa tertidur dengan pulasnya. Terdengar suara sayup-sayup tawa seseorang ditelinganya. Suara itu pun turut membangunkan Raisa. Ternyata, suara itu berasal dari kamar mamanya. Siapa lagi kalu bukan mamanya dan tante Rini yang sedang asyik tertawa seperti itu. Raisa bergumam “Dasar mama dan tante Rini, pada gak inget umur. Kaya ABG aja main-main ke kamar temen
***

Keesokan harinya. Pukul 06.00 seperti biasa Raisa sarapan. Hari ini papanya tidak nampak lagi. Besoknya juga. Besoknya lagi dan lagi. Papa kemana sih? batin Raisa. Setiap dia tanya ke mamanya, jawabannya hanya seputar  “mungkin sibuk”, “sibuk kali” atau “gak tahu, banyak kerjaan mungkin”. Selalu saja seperti itu. Tapi Raisa tidak segampang itu untuk percaya pada mamanya. Sekarang Raisa adalah seorang gadis yang merindukan kehadiran dan kasih sayang seoarang bapak kandungnya.  Sudah lama sekali dia tidak bertemu papanya walaupun mereka tinggal serumah. Hari libur pun papanya masih tidak ada dirumah. Lantas sebenarnya ada apa dengan papa Raisa?

Makin lama papa Raisa semakin jarang pulang. Tiga hari sekali. Dua hari sekali. Bahkan sampai seminggu sekali. Raisa mulai curiga. Dia ingin menyampaikan perasaan itu pada seseorang yang mengerti dan dekat dengannya. Mamanya? Ah percuma. Mario? Ya, Mario! Tapi apakah Mario mampu memberikan solusi buat Raisa? Hah, sayangnya tidak. Mario hanya bisa meyakinkan Raisa bahwa papanya mungkin sibuk , dan sibuknya juga karena bekerja untuk Raisa dan uangnya buat sekolah Raisa dan bla bla bla. Ternyata Mario sama saja dengan mama Raisa! --" . Tapi kemudian Mario memberikan sebuah solusi yang entah jalan keluar yang terbaik atau bukan. Mario berkata kepada Raisa bahwa kenapa mereka tidak menyelidiki papa Raisa? Raisa ragu-ragu dengan hal itu. Tapi, ini tentang papanya, papa kandungnya, orang yang di sayangnya. Jadi, dia harus yakin, demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan papanya.

***

Hari ini hari sabtu. Bisaanya papa Raisa berangkat pukul 05.00. Dan hari ini, papanya sedang berada di rumah. Raisa sengaja bangun pagi menunggu papanya. Sewaktu papanya akan sarapan, Raisa langsung mendekatinya.
“Papa kerja?”
“Iyalah”
“Kenapa sih papa gak libur aja. Sehari aja pa”
“Ya gak bisa dong Raisa, papa lagi sibuk”
“Sesibuk apa sih pa sampai jarang banget pulang kerumah”
“Ya sibuk banget. Papa kan kerja kan juga buat kamu”
“Iyasih pa, tapi…”
“Yaudah papa mau berangkat dulu, entar telat. Kalau butuh apa-apa pakai kartu kredit unlimited kamu, masa gak cukup? Atau ambil ATM kamu, entar papa isi lagi deh. ”
“Em…bukan git…”
“Udah, udah ya entar aja, plis! papa harus berangkat sekarang”
“Yaudah deh pa, ati-ati ya. Cepet dong pa selesaiin kerjaannya”
“Iya, pasti kok”
Raisa sedikit kecewa dengan jawaban papanya itu. Mungkin memang papa sangat sibuk hingga perkataan Raisa dipotong. Raisa hanya mencoba berpikir positif. Ia tidak ingin pikiran negatif menyerang otaknya.
***
Pukul 19.00, Raisa pergi jalan-jalan bersama Mario. Ya namanya juga anak muda malam mingguan bersama pacar itu emang sesuatu. Mereka pergi ke salah satu Mall. Mereka memutuskan untuk makan malam dulu di sebuah restoran Jepang di Mall itu. Di tengah suasana makan yang romantis, penuh canda suka ria itu, tiba-tiba berubah menjadi suasana yang mencengangkan setelah Raisa melihat sosok laki-laki yang tidak asing lagi baginya.Senti demi senti dia mengamati lelaki itu. Siapa dia? Raisa seperti kenal betul dengan lelaki itu, tapi siapa dia? Itu adalah Papanya! Betapa terkejutnya Raisa melihat papanya disana. Raisa ingin mennghampiri papa yang sudah lama tak pergi bersama, tak mengobrol bnyak dengannya. Saat Raisa ingin menghampiri papanya, ada wanita dengan pakaian minim lebih dulu menghampiri papanya dan langsung cipika cipiki. Sontak saja emosi Raisa memuncak dan ingin menghampiri papanya. Namun Mario mencegahnya. Mario sadar, itu Mall! Percuma saja membuat keributan disana. Mario berencana bagimana kalau mereka mengikuti papanya malam ini. Raisa pun terpaksa setuju. Setelah makan malam itu Raisa dan Mario mengikuti papa dan wanita seksi itu. Mobil Mario terus mengikuti mobil papa Raisa dibelakangnya. Beberapa saat kemudian, mobil papa Raisa berhenti di sebuah rumah kecil di pinggir jalan. Papa Raisa dan wanita itu masuk ke dalam rumah. Raisa pun menangis sedih. Batinnya sangat terpukul melihat hal itu.
“Raisa… sudahlah jangan nangis lagi. Kita juga kan belum tahu ada apa antara papa kamu dan perempuan itu”
“Apa lagi coba, kalau papa bukan selingkuh. Jadi ini alasan papa gak pernah dirumah?”
“Tenang Raisa, tenang. Jangan negatif thinking dulu. Siapa tahu mereka cuman rekan kerja”
“Ya tapi kan…”
“Ssst… gini deh gini, gimana kalau beberapa malam kedepan kita mengikuti papamu lagi. Kan seminggu besok kita libur”
“Em…tapi em… kamu yakin itu bisa…”
“Ssst udah, percaya sama aku!”
“Em…yaudah deh”
Nah sekarang kita pulang aja ya, tenangin diri kamu dulu plis!”
“Iya, makasih ya Mario”
“Sama-sama Raisa”

***

Hari minggu malam, Mario memarkir mobilnya di pintu gerbang perumahan Raisa. Hari itm  mobil papa Raisa akan keluar sekitar pukul 20.00 WIB. Raisa menelepon Mario saat mobil  papa Raisa akan keluar/
“Mario, kamu di depan kan? Aku langsung ke sana sekarang. Papa mau keluar. ”
“Oke cepetan ya sebelum papamu keluar”
Raisa berpamitan pada mamanya bahwa dia ingin pergi ke supermarket di Mall dekat rumahnya. Raisa jarang sekali berbohong, tapi untuk kali ini, dia tidak mungkin jujur pada mamanya. Raisa berlari ke tempat Mario berada. Raisa pun masuk ke mobil Mario. Sesaat kemudian muncullah mobil papa Raisa. Mereka langsung mengikuti mobil papa Raisa. Mobil papanya melaju dengan sangat kencang. Mario yang kesulitan mengejar di tengah hiruk pikuk ramainya kota itu di malam hari akhirnya kehilangan jejak di tengah jalan. Sial!
“Yah… ilang deh” kata Mario
“Yah…gimana nih? Eh eh gimana kalau kita langsung ke rumah yang kemarin, kita nanya warga sekitar gimana?”
“Em ayok deh”
Mereka berdua pergi ke tempat dimana Papa Raisa kemarin masuk. Mereka pun berhenti di warung kopi kecil di dekat rumah itu. Mereka seakan hanya orang yang lewat dan mampir minum kopi. Mereka duduk bergabung dengan warga sekitar dan orang-orang yang juga ngopi di warung itu. Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak menyapa mereka berdua.
“Mas mbak, baru ya ke sini?”
“Eh iya pak, kok tahu”
“Saya mah setiap malam di sini mas. Udah dari 5 tahun yang lalu. Sekalian menjadi tukang ojek di sini hehe”
“Oh gitu, berarti bapak tahu dong rumah yang itu (menunjuk) rumah siapa” Raisa bertanya
“Oh itu mah rumah kontrakannya Pak Handoko mbak”
Raisa sangat terkejut dengan hal itu. Pak Handoko? Itu papanya. Rumah kontrakan? Buat apa papanya ngontrak? Kurang nyaman apa rumah besar mereka? Kurang mewah apa? Kurang apa? Ada apa dengan papanya? Untuk menjawab sederet pertanyaan yang menyerang benaknya itu, Raisa terus bertanya pada tukang ojek itu.
“Kontrakan Pak Handoko? Orangnya tinggi, rambutnya cepak, putih, pake kacamata?”
“Lho kok mbak tahu, mbak kenal sama pak Handoko?”
“E… iya kenal pak, dia…dia… em bosnya mama saya di kantor”
“Oh, Pak Handoko itu bos toh”
Raisa menahan air matanya dia berusaha untuk tidak nangis. Dia harus kuat. Dia harus mencari tahu tentang papanya dari si bapak yang tidak begitu pintar dan peka ini. Di harus pintar –pintar memanfaatkan keadaan bapak ini untuk menyelidiki papanya.
 “Pak Handoko udah lama belum pak tinggal di situ?” Mario sekarang yang bertanya
“Ya lumayan lah udah 3 bulan, saya juga merasa aneh apa dia gak punya rumah sampai harus ngontrak seperti itu. Apa dia masih belum punya istri dan anak padahal sudah setua itu? Mbak mas tahu gak keluarganya gimana?
“Emm enggak tahu pak, mungkin dia juga lagi sibuk urusan kerjaan pak biar deket dia pulang ke kontrakannya” Raisa sudah mulai berkaca-kaca
“Iya juga sih, Pak Handoko juga hampir setiap malam membawa cewek ke rumah itu , katanya sih urusan pekerjaan. Tapi kok agak aneh ya, masa kerja malam-malam gitu. Udah gitu ceweknya ganti-ganti. Dan ada beberapa cewek yang terkadang saya yang nganter pulang. Pernah waktu itu sekali saya nganter cewek pulang, eh ternyata bukan pulang mbak, tapi ke tempat hiburan gitu mbak, Ckckck”
“Hiburan?”
“He`em,  ya semacam kompleks em lokalisasi gitu lah mas.
“Boleh saya tahu dimana tempatnya, saya mau nyari Pak Handoko soalnya ada yang mau saya omongin masalah kerjaan, penting soalnya. Mungkin Pak Handoko ada di sana pak”
“Oh gitu, yaudah mas pergi aja ke jalan mawar belakang Mall Luxurius, di sana ada gang kecil nah disitu nanti ada ramai-ramai. Nah disitu. Tapi mas jangan bilang-bilang saya yang ngasih tahu ya, saya gak enak entar sama Pak Handoko”
Raisa langsung berpamitan kepada bapak itu dan ingin langsung menuju ke tempat itu
“Oh iya pak, yaudah deh pak kita duluan ya pak. Makasih infonya”
“Iya iya mas mbak, ati-ati”
***
Di dalam mobil, Raisa dan Mario terus bercakap tentang papanya. Raisa yang terus menangis sementara Mario berusaha sekuat tenaga menenangkan Raisa sambil focus menyetir.
“Tuh kan apa kataku Mario, papaku main perempuan” Raisa menangis tersedu-sedu di mobil Mario
“Raisa, tenang dulu”
“Gimana bisa  tenang, itu papaku Mario! Kamu gak ngerti perasaanku”
Mario lalu memberhentikan mobilnya, rem mendadak!
“Aku ngerti Raisa, aku ngerti. Kamu harus kuat menerima ini semua Raisa. Apapun yang terajdi aku selalu ada kok buat kamu. Udah plis jangan nangis lagi”
Mario memeluk Raisa.
“Itu papaku Mario, aku gak tahu harus gimana. Di satu sisi aku sayang papa di satu sisi aku benci papa”
“Gimanapun keadaan papa kita Tuhan pasti memberikan yang terbaik buat kita. Tuhan pasti punya rencana lain Raisa. Rencana Tuhan pasti baik kok. Yaudah deh gini, sekarang kamu mau kita lanjut apa pulang aja?”
“Lanjut aja deh”
“Tapi kamu janji kamu harus tenangin diri kamu dulu”
“Iya iya aku coba,  makasih ya Mario”
“Iya sama-sama Raisa”
Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke tempat lokalisasi itu. Belum sampai di tempat itu mereka berdua melihat mobil papanya di jalan. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengikuti mobil papanya saja. Mobil papa Raisa juga telah melewati jalan mawar, tempat lokalisasi namun mobil papa Raisa belum berhenti. Mario dan Raisa bingung mau kemanakah mobil Pak Handoko itu?. Ternyata mobil papa Raisa belok ke sebuah hotel kecil di pinggiran kota. Saat turun, papa Raisa kembali berduaan bersama perempuan tapi sekarang berbeda dengan perempuan yang kemarin. Raisa sangat emosi. Dia pun turun dari mobil.  Mario berusaha mencegatnya
“Ini gak bisa dibiarin, brak (menutup pintu mobil)”
“Raisa tungu, Raisa”
“Lepasin tanganku Mario! aku mau ngejar papa”
“Raisa! Tenang dulu! Kita ke sana bareng-bardng, tapi biarin mereka masuk dulu. Kita pastiin kalau mereka benar-benar ada apa-apa”
“Tapi…”
“Raisa! Udah! Dengerin aku”
“Hiks hiks hiks…itu papaku Mario papaku hiks hiks hiks” Raisa menangis tersedu-sedu di pelukan Mario
“Tenang Raisa, tenang. Sekarang gini kita masuk aja, kita ngakunya kita anaknya papa kamu yang mau nginep bareng tapi ditinggalin papa kamu.”
“Maksudnya?”
“Yaudah deh biar aku yang ngatur, pokoknya kamu ikut aja. Tapi kamu harus janji kamu tenang dulu! Janji?
 “Iya, janji!”
“Yaudah, kamu kuat kok. Inget, kamu kuat!”
Raisa menghela nafas dan akhirnya mereka berdua memasuki hotel dan bertanya kepada receptionist yang ada di lobby hotel itu.
“Mbak, permisi tadi bapak-bapak yang pake baju biru barusan kamarnya nomor berapa ya?”
“Maaf, mas sama mbak ini siapanya?”
“Aduh mbak kasih tau aja deh dimana papa saya”
“Tapi maaf mas, ini termasuk pelayanan kami. Kami tidak ingin tamu-tamu merasa tidak nyaman”
“Mbak, kita ini anaknya bapak itu. Namanya pak Handoko kan mbak?”
“Em sebentar, oh iya mas benar”
“Jadi? Masih gak percaya kami anaknya?”
“Oh maaf maaf mas, kamarnya pak Handoko nomor 225 lantai 5 mas”
Belum sempat mereka mengucapkan terima kasih Raisa sudah berlari ke arah lift. Mario pun lari mengejar Raisa sambil mengucapkan terima kasih pada receptionist itu
“Hey Raisa…. Eh makasih mbak”
“Iya sama-sama mas, ckckck anak sekarang ada aja masalahnya”
Raisa dan Mario menaiki lift ke lantai 5. Di sana mereka mencari-cari kamar nomor 225 dan akhirnya ketemu tapi, kamar itu dikunci. Raisa berniat mengetuk pintunya namun Mario ingin mencegahnya, karena Mario tahu Raisa akan sangat emosi. Tapi terlambat. Raisa sudah berteriak-teriak di depan kamar itu, mengedor-gedor pintu tak karuan.
“Iya ada apa? Lho? Raisa? Ngapain kamu disini?”
“Harusnya Raisa yang nanya ngapain papa disini?”
“Papa nginep di sini karena… karena besok ada meeting di hotel ini pagi-pagi sekali. Papa capek kalau harus pulang pergi”
“Oh gitu, lalu siapa perempuan itu pa?”
“Perempuan? Tidak ada perempuan di sini. Papa sendirian”
“Papa bohong” Raisa menerobos masuk kamar itu dan mencari-cari dimana perempuan itu berada
“He pecun, di mana loe?”
“Raisa jaga mulut kamu!”
“Maaf pa, mulut Raisa udah gak bisa dijaga, kelakuan papa aja gak bisa dijaga”
“Kurang ajar kamu, plak!”
“…., Makasih pa tamparannya, Raisa merasa lebih baik. Karena Raisa yakin papa bukanlah papa Raisa yang dulu”
“Raisa tenang Raisa tenang, Om udah om. Didengerin orang. Ini hotel”
“Apa urusan kamu? Kamu siapa?”
“Saya Mario om, pacarnya Raisa”
“Pacar? Hahaha pantes aja kamu jadi kurang ajar gini. Pacar kamu aja seenaknya mencampuri urusan keluarga orang”
“Maaf om, bukannya saya kurang ajar, saya hanya membantu Raisa”
“Papa emang bener-bener”
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh di dalam kamar mandi.
“Itu siapa pa? Itu pecun papa kan?”
“Raisa!
Papa Raisa ingin menampar Raisa lagi namun tangan Mario mencegahnya.
“He pecun keluar loe! Pengecut loe! Bisanya ngrusak keluarga orang doing! Anjing! ”
“Raisa!!! Cukup!!”
“Apa pa? Apa? Papa mau tampar Raisa lagi? Silahkan pa!”
“Kamu memang bener-bener”
“Bener-bener apa?”
“Bener-bener… Em… (menangis), Ya Tuhan apa yang sudah aku perbuat, Raisa maafkan papa nak”
Papa Raisa memeluk Raisa. Tapi Raisa hanya mampu menangis diam tanpa kata sejenak. Sedangkan Mario hanya berdiri kaku melihat pacarnya dan papa pacarnya saling menangis di depannya.
“Kenapa papa tega kaya gini pa?”
“Papa… em papa”
“Jawab pa! jawab!”
“Sebenarnya kamu sudah pantas dan sudah ngerti untuk mengetahui masalah keluarga kita. Antara papa dan mama kamu. Ini semua gara-gara mama kamu papa jadi sering main perempuan akhir-akhir ini. Tidak pulang. Ini semua karena mama kamu”
“Mama kenapa?”
“Em… mama kamu, mendingan kita sekarang cepat pulang ke rumah dan lihat gimana kelakuan mama kamu!”
“Maksud papa?”
“Sudahlah lebih baik kalian cepat pulang ke rumah dan lihat aja kelakuan mama kamu”
“Raisa gak mau pulang sebelum papa ikut pulang”
“Yaudah, ayo kita pulang. Mobil papa biar disini aja. Papa bareng kalian aja”
“E, iya om”
Mereka bertiga turun ke parkiran meninggalkan si pecun yang entah gimana nasibnya di kamar mandi. Jangan tanya dia udah dibayar apa belum. Yang jelas, sekarang Raisa, Mario dan Papa Raisa di dalam mobil dengan perasaan yang tak karuan. Apa yang sebenarnya dilakukan Mamanya? Mamanya kenapa? Papa kenapa? Keluarga Raisa ini kenapa? Apasih ini Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaan?
***
Dan sampailah mereka berdua di rumah Raisa. Papanya mengajak Raisa menuju ke kamar mamanya. Sementara Mario berada di belakang mereka berdua. Dia tidak ingin terlalu dalam ikut campur urusan keluarga orang. Tapi di satu sisi, dia harus ada disitu, Raisa itu pacarnya.
Di depan kamar mama Raisa, saat papanya langsung mendobrak pintu kamar yang terkunci itu. Seketika itu suasana menjadi diam… tanpa suara apapun kecuali suara Raisa.
“Mama…!”
Hening dan hening, yang terdengar hanyalah suara tetesan air mata Raisa yang jatuh menetes di pipinya. Air mata yang menjerit perih kesakitan. Memang tak ada suara di ruangan itu. Namun, air mata itu seakan menjadi pembicara tunggal dalam ruangan itu.
Sesuatu telah terjadi di sana. Sesuatu antara mama Raisa dan tante Rini. Keduanya berada di atas tempat tidur tanpa menggunakan sehelai benang pun.  Mereka berdua mempunyai sebuah hubungan special yang tak normal. Ya, lesbian. Mama Raisa adalah seorang lesbian. Mereka telah menjalin ikatan itu, jauh sebelum mama Raisa menikah dengan papanya. Mama Raisa hanya mampu tertunduk menutupi tubuhnya dengan selimut. Mulutnya sudah tak mampu lagi menjelaskan kata-kata buat seorang anak yang telah mengetahui kedok mamanya. Air matanya juga sudah mengering.  Tubuhnya kaku. Matanya menatap Raisa dengan perasaan berjuta maaf yang percuma.  Papa Raisa juga terdiam. Dia tak tahu harus berbuat apa. Yang dia tahu adalah dia sudah menjadi imam yang sangat buruk dalam sebuah keluarga. Terjebak dalam sumur penyesalan yang tak berdasar. Sementara tante Rini, menunduk malu. Rasa malunya sudah teramat sangat tak mampu dielu-elu. Mario, berdiri kaku di belakang Raisa memegang pundak Raisa, berusaha memberikan kekuatan batinnya buat Raisa. Semuanya sudah jelas. Masalah yang berjalan berahun-tahun akhirnya terbongkar di saat yang memilukan ini. Raisa masih saja berdiri kaku dengan air matanya yang terus menjerit kesakitan batinnya menyampaikan hal yang tak bisa ia terima. Hanya tinggal nuraninya yang masih mampu berkata-kata,  “Inikah papa mamaku Tuhan?”
(/Redhika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar