Termanggu dan terpaku
saat guru mengusir dungu Tanpa ragu terus
melaju mengejar berbuku-buku ilmu yang melulur berliku Beberapa waktu pernah
guru menggebu kami malah berkicau dan menggerutu dipunggungnya
Perilaku palsu demi
nilai sepuluh
Dua biru, enam merah,
tiga biru, tiga abu-abu. Empat belas!
Empat belas tahun
telah mengharu biru, guruku! Terima kasih.
Sejam yang lalu saya baru datang di
rumah. Acara amal sosial, bagi makan ke
jalanan dan ya sejenak melepas lelah sama anak-anak yang hampir 2 minggu –
sebulan sekali rutin diadakan di kelas tiga. Minggu-minggu sebelumnya saya tak
sadar dengan apa yang saya temukan di sepanjang perjalanan saya. Malam ini,
saya baru sadar ada kehidupan yang sangat tidak kontradiktif. Tidak seimbang.
Ya Allah, ampuni dosa hambamu yang terkadang khilaf mengeluh dan tak mensyukuri
apa yang telah Kau berikan. Berikut saya
curahkan beberapa cerita yang saya dapat di jalanan di perjalaan malam minggu
saya hari ini.
Anak tak bertuan menadahi setiap
uluran bulan merah jambu yang mengucur di kotak lencu itu
Ibu pemakan botol sampah yang tak
pernah lelah atau berkelu kesah
Bapak tua berdzikir sambil menanti rakitan
pesawat mini terbeli
Keluarga yang sedang pulas walau
hanya beralas kertas
Tuhan memang tak pernah menjajikan
kehidupan penuh kebagiaan
Tuhan…mudahkan!
Pasangan
bergandeng tangan bermesraan dengan selingan kekhilafan
Bercandaan bersama
teman merasakan kehangatan persahabatan di restoran
Lampu kelap kelip germerlapan
dan bukan lampu jalan dan iringan tak
pelan
Selamat malam Anda yang terhormat yang membuat saya penat :)
Apa kabar? Semoga baik ya. Ini ada pesan dari saya, tolong
dibaca siapa tahu surat ini bisa Anda jadikan cermin dan mengintrospeksi diri
anda agar lebih melihat peka tentang keadaan sekitar anda. Tidak ada maksud
apa-apa, hanya mengingatkan saja. Untuk bagian akhir saya serahkan sepenuhnya
kepada Anda, silahkan anda menyimpulkan sendiri tentang maksud surat ini.
Semoga Anda pintar :)
“Sebuah cerita tidak
akan bisa menjadi cerita yang utuh dan bisa diceritakanjika tidak ada yang memulai menulis lembar
pertamanya. Maukah menulis bersama? Mungkin cerita tentang kita? Kalau tidak, itu
bukan masalah, itu hak Anda. Maaf sudah menjadi tokoh tak diundang ke buku
cerita anda dan baiklah bagaimana kalau saya akan pergi sekarang saja.Tetapi ingat, cerita tentang kita belum
tertulis dan belum mencerita. Jika suatu hari anda ingin membuat cerita itu,
mulailah menulis dulu. Tidak etis dan tidak pantas kalau wanita yang harus memulai
menulis, sekalipun emansipasi dan modernisasi sudah mendunia. Jika anda tidak
ingin memulai menulis cerita, jangan membuka buku lalu membiarkannya terbuka
terlalu lama untuk menunggu kepastian yang tidak pasti , buku itu lama-lama
akan usang, berdebu, kotor, rapuh,karena
ketidakpastian anda. Segeralah menulis atau
silahkan tutup bukunya. Kepastian, bukan harapan. Jangan buka bukunya jika Anda
tidak benar-benar yakin untuk menulis ceritanya.”
Sudah? Bagaimana? Cukup mencolek Anda? Cukup membuat Anda
lebih paham tentang keadaan? Cukup membuat Anda menyadari apa yang terjadi?
Cukup? Ya sudah, Terima kasih :)